Makalah lingkungan : Air hujan jangan dibuang sia-sia




 
BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang
Air hujan adalah air yang menguap karena panas dan dengan proses kondensasi (perubahan uap air menjadi tetes air yang sangat kecil) membentuk tetes air yang lebih besar kemudian jatuh kembali ke permukan bumi. Pada waktu berbentuk uap air terjadi proses transportasi (pengangkutan uap air oleh angin menuju daerah tertentu yang akan terjadi hujan). Ketika proses transportasi tersebut uap air tercampur dan melarutkan gas-gas dan senyawa lain yang ada di udara. Karena itulah, air hujan mengandung debu, bakteri, serta berbagai senyawa yang terdapat dalam udara. Jadi, kualitas air hujan akan banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya.(Sanropie, APK TS)
Pemanenan air hujan ( rainwater harvesting ) sudah banyak dilakukan sejak lama khususnya dipedesaan dimana sumber air lainnya yaitu air tanah tidak mencukupi, atau pengadaannya terlalu mahal. Pemanenan air hujan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan ternak, terutama menjelang dan selama musim kemarau panjang. Cara yang dilakukan yaitu dengan pengumpulan air hujan yang mengucur dari atap rumah. Untuk skala besar pemanenan air hujan dapat dilakukan di daerah tangkapan air
Sesungguhnya air yang  berada diperut bumi secara daur  ulang berasal dari atmosfir melalui curah hujan yang sampai dibumi sebagian tersimpan dalam air tanah, mengalir sepanjang permukaan dan sebagian menguap kembali melalui cyclus ekologis. Air yang telah tersimpan dalam perut bumi sesungguhnya dengan pendekatan teknologi bisa saja terus menerus dimanfaatkan.

1
 
Namun pengembangan teknologi tersebut bagi Indonesia adalah sementara tak terjangkau dari segi biaya. Negara- negara maju mampu mendatangkan  hujan dan kemudian disimpan melalui suatu konservasi. Penggunaan teknologi masih sulit dirasa bagi Indonesia untuk diterapkan dalam “publik use” .
Situasi kantong- kantong air diperut bumi di Indonesia tidak diketahui secara pasti. Namun ada satu hal yang jelas yang bisa dimanfaatkan dengan penggunaan teknologi tepat guna yang sederhana. Yaitu pemanfaatan dan penyelamatan curah hujan untuk ditampung dan di konservasi agar bagi penduduk dapat digunakan sebagai sumber cadangan air.
Jumlah curah hujan di permukaan bumi Indonesia cukup besar dan merupakan karunia yang harus dimanfaatkan dengan baik yaitu dengan ditampung untuk kemudian dikonservasi  baik untuk air minum maupun disimpan di penampungan untuk cadangan musim kemarau.

1.2.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.      Apakah air hujan dapat dimanfaatkan?
2.      Bagaimana memanfaatkan air hujan di lingkungan rumah?

1.3.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui maanfaat air hujan.
2.      Mengetahui cara memanfaatkan air hujan di lingkungan rumah.

1.4. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan ini adalah:
1.      Penulisan ini dapat memberikan pemahaman kepada pembaca tentang pemanfaatan air hujan di lingkungan rumah.
2.      Penulisan ini sebagai informasi dasar yang dapat dijadikan sebagai referensi kepustakaan tentang pemanfaatan air hujan di lingkungan rumah.




 
BAB II
PEMBAHASAN


2.1.  Pengertian Air Hujan
Air hujan adalah air yang menguap karena panas dan dengan proses kondensasi membentuk tetes air yang lebih besar kemudian jatuh kembali ke permukan bumi. Pada waktu berbentuk uap air terjadi proses transportasi (pengangkutan uap air oleh angin menuju daerah tertentu yang akan terjadi hujan). Ketika proses transportasi tersebut uap air tercampur dan melarutkan gas-gas oksigen, nitrogen, karbondioksida, debu, dan senyawa lain. Karena itulah, air hujan juga mengandung debu, bakteri, serta berbagai senyawa yang terdapat dalam udara. Jadi kualitas air hujan juga banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. (Slamet ,1986).
Air atmosfir dalam keadaan murni sangat bersih, tetapi sering terjadi pengotoran karena industri, debu dan sebagainya. Oleh karena itu untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada waktu menampung air hujan jangan dimulai pada saat hujan mulai turun, karena masih banyak mengandung kotoran. Air hujan memiliki sifat agresif  terutama terhadap pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir, sehingga hal ini mempercepat terjadinya karatan (korosi) air hujan juga memiliki sifat lunak, sehingga boros terhadap pemakaian sabun (Waluyo, 2005).

3
 
Dibandingkan dengan air minum biasa, air hujan mempunyai sedikit kelemahan yaitu kandungan garam-garam. Bila perlu ke dalam air hujan dapat ditambahkan atau dibubuhi garam. Karena beberapa garam juga terdapat dalam bahan makanan kita, sedang garam dapur selalu ditambahkan dalam persiapan hidangan, maka dalam prakteknya bila dibubuhkan kapur saja sudah cukup. Kapur yang dapat digunakan adalah kapur-kapur yang banyak didapat di pedagang­pedagang bahan bangunan. Sebelum digunakan kapur disaring sehingga baik batu/kerikil serta kotoran lain dapat dipisahkan. Jumlah kapur yang ditambahkan adalah 25-100 mg/liter (Hadi, 1973 dalam Winarno,1996).
Total curah hujan di seluruh wilayah Indonesia, jumlah air yang dihasilkan mencapai 3.085 miliar meter kubik pertahun. Dari jumlah tersebut, 20-40 persennya akan meresap ke perut bumi dan menjadi air tanah. Dengan demikian, jumlah kandungan air tanah di setiap wilayah pun bervariasi. (Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 2004:16).
Pada umumnya kualitas air hujan cukup baik, namun air hujan yang berasal langsung dari langit akan bisa mengakibatkan kerusakan- kerusakan terhadap logam yaitu akan menimbulkan karatan. Disamping itu untuk daerah perkotaan air hujan akan dikotori pula oleh debu- debu dan apabila terjadi ledakan gunung berapi maka air hujan pun akan terkotori oleh debu gunung berapi.
Beberapa sifat dari air hujan:
1.      Air hujan bersifat lunak ( soft water ) karena tidak mengandung larutan garam dan zat mineral sehingga terasa kurang segar.
2.      Dapat mengandung beberapa zat yang ada di udara seperti NH3 dan CO2 agresif sehingga bersifat korosif.
3.      Dari segi bakteriologis maka relatif lebih bersih tergantung pada tempat penampungannya.
4.      Besarnya curah hujan di suatu daerah merupakan patokan yang utama dalam perencanaan penyediaan air bersih bagi masyarakat.(Sanropie, APK).
Air hujan diduga  mengandung lebih banyak gas-gas daripada air tanah, terutama kandungan CO2 dan O2. Kelarutan gas CO2 didalam air hujan akan membentuk asam askorbat (H2CO3) yang menjadikan air hujan bereaksi asam. Beberapa macam gas oksida dapat berada pula di udara, diantaranya yang penting adalah oksida belerang dan oksida nitrogen (S2O2 dan N2 NO3). Kedua oksida ini bersama-sama dengan air hujan akan membentuk larutan asam sulfat dan larutan asam nitrat ( H2SO4 dan H2 NO3).( Depkes,1991).
Oleh karena itu air hujan harus diolah sebelum digunakan untuk keperluan kita sehari-hari.
2.2.  Pengolahan dan Pemanfaatan Air Hujan
Pengelolaan air hujan sendiri pada intinya memiliki dua tujuan utama, yaitu (1) bagaimana mendapatkan manfaat yang optimal, baik ketika melimpah (musim hujan) ataupun ketika surut (musim kemarau), dan (2) bagaimana menghindarkan dari bencana, baik ketika melimpah pada musim hujan sehingga tidak sampai banjir ataupun ketika musim kemarau sehingga tidak sampai kekeringan. (Susilo Soekardi, 2012:18).
Untuk memenuhi dua tujuan ini, manusia terus berpikir untuk mencari tahu, meneliti, dan bereksperimen tentang bagaimana mengelola air sehingga lahirlah puluhan cabang ilmu yang khusus mempelajari seluk beluk air, mulai dari oseanografi, hidrologi, limnologi, potamologi, hingga geohidrologi. Dengan landasan ilmu-ilmu ini yang dipadupadankan dengan ilmu dalam bidang teknik, semacam teknik rekayasa bangunan, manusia berkreasi dan berinovasi sehingga lahirlah aneka cipta dan karya yang bersifat fisik, mulai dari bak penampungan air, sumur resapan, saluran irigasi, hingga bendungan atau waduk raksasa dengan PLTA-nya.
Dalam skala kecil, khususnya di wilayah dengan curah hujan yang tinggi, sejumlah cara untuk mengelola limpahan air hujan telah banyak dilakukan, antara lain:
a.      Membuat bak penampungan air.
Cara yang paling umum dan paling tradisional dalam mengelola curahan atau limpahan air hujan adalah dengan membuat bak-bak penampungan, baik kecil maupun besar, yang memungkinkan curahan air hujan dapat ditampung. Di daerah-daerah pertanian, pembuatan kolam-kolam penampungan air hujan pun sudah lazim dilakukan. Kolam-kolam ini, selain sebagai difungsikan sebagai penampungan air hujan, biasa difungsikan pula sebagai tempat memelihara ikan. Namun demikian, pembuatan bak penampungan kurang efektif dalam menyimpan dan menampung limpahan air hujan karena kapasitas yang sedikit, yaitu tergantung pada seberapa besarnya ukuran bak. Oleh karena itu, bak penampungan lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dalam skala kecil, yaitu untuk mencuci, mandi, memasak, atau sebagai air minum. Itu pun hanya bisa dinikmati oleh penduduk yang memiliki cukup lahan untuk membuat bak-bak penampungan air
b.      Membuat sumur resapan air.
Sumur resapan termasuk salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh di atas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur resapan ini dapat memberikan imbuhan air secara buatan dengan cara menginjeksikan air hujan ke dalam tanah. Sasaran lokasi pembuatan sumur resapan adalah daerah resapan air di kawasan budidaya, permukiman, perkantoran, pertokoan, industri, sarana dan prasarana olahraga serta fasilitas umum lainnya.
Ada sejumlah manfaat dari pembuatan sumur resapan ini, antara lain:
Ø  mengurangi aliran permukaan sehingga dapat mencegah atau mengurangi terjadinya banjir dan genangan air.
Ø  mempertahankan dan meningkatkan tinggi permukaan air tanah.
Ø  mengurangi erosi dan sedimentasi.
Ø  mengurangi atau menahan intrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan kawasan pantai.
Ø  mencegah penurunan tanah (land subsidance);
mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.

Proses pengumpulan air hujan dengan metode pembuatan bak-bak atau kolam penampungan (khususnya di daerah pedesaaan atau kawasan pertanian) maupun dengan pembuatan sumur-sumur resapan (khususnya di kawasan perkotaan) seringkali dihadapkan pada sejumlah kendala, antara lain menyangkut kurangnya kesadaran warga akan pentingnya mengoptimalkan potensi air hujan, keterbatasan tempat pembuatan (khususnya di kota-kota besar), hingga ”meragukannya” kualitas air hujan yang didapatkan.
Hujan asam (hujan dengan pH di bawah 5,6) serta kualitas udara kota yang kurang baik menjadi penyebab utama kekhawatiran warga kota untuk menggunakan air hujan, khususnya untuk dijadikan sebagai air minum. Salah satu upaya pemecahan yang biasa ditawarkan adalah dengan memasang saringan alami sebelum air masuk ke bak penampungan dan mengukur pH air tampungan sebelum digunakan dengan menggunakan pH meter atau kertas lakmus. Apabila kualitas tidak terlalu baik, air tampungan ini sebaiknya digunakan untuk kebutuhan air baku bukan untuk kebutuhan air minum.
Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah dan pihak-pihak berwenang, termasuk kalangan akademisi, bahkan masyarakat secara umum, perlu memikirkan cara yang paling tepat, paling efisien, murah, tidak memakan tempat dan biaya yang mahal untuk memanfaatkan karunia Tuhan bernama curahan air hujan ini. Sebab, mau tidak mau, kita harus mencari solusi yang tepat dan multimanfaat untuk mengatasi aneka permasalahan terkait sumber daya air di tengah melimpahnya air hujan, semisal banjir, minimnya air bersih akibat pencemaran, rendahnya kualitas dan kuantitas air tanah, dan sebagainya.
Salah satu solusi yang dapat dipilih adalah dengan metode ”memanen air hujan” alias rain water harvesting dengan pendekatan terpadu.Pendekatan terpadu di sini maksud adalah mengoptimalkan pemanfaatan air hujan dengan bantuan ”teknologi alternatif” yang telah ada yang dipadukan dengan teknologi pengolahan dan pemurnian air bersih yang sudah dikembangkan. Pemanfaatan kedua jenis teknologi ini digunakan untuk mendukung dan mengoptimalkan bak-bak penampungan air hujan dan sumur-sumur resapan akan tetapi dengan menggunakan sedikit modifikasi. Selain itu, dengan pendekatan terpadu ini, aspek diutamakan bukan sekadar menghasilkan air baku dan air layak minum, tetapi juga mendapatkan suplay energi dari alam dan pangan.
Adapun teknologi yang dapat digunakan dalam konsep ini, selain bak penampungan dan sumur resapan, antara lain:
1.         Panel surya atau solar cell. Panel surya adalah sebuah teknologi untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik dengan menggunakan photovoltaics. Secara umum cara penggunaan tenaga matahari ini dibagi dua yaitu aktif dan pasif. Penggunaan secara aktif yaitu menggunakan teknologi panel photovoltaic atau panel tenaga surya untuk mengumpulkan energi listrik. Adapun cara penggunaan secara pasif adalah dengan cara mengatur arah bangunan, menggunakan material yang menyerap panas dan desain bangunan yang secara alami memperlancar sirkulasi udara di dalam ruang.
2.         Hidroponik. Hidroponik atau soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah adalah budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless.
3.         Water purifier atau alat pemurni air. Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah Teknologi Pure It. Proses kerja dari ”Teknologi Germkill” dapat menghasilkan air yang benar-benar aman dari bakteri dan virus sehingga layak diminum tanpa dimasak terlebih dahulu.

Untuk menerapkan konsep ini, kita dapat memanfaatkan tempat-tempat dan pusat keramaian, seperti halte busway, gedung-gedung pemerintahan, sekolah atau universitas, rumahsakit, apartemen, atau bahkan rumah tempat tinggal kita.
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mendesain atap-atap bangunan sedemikian rupa sehingga dapat menampung air hujan. Konsepnya mirip dengan bak penampungan air hujan. Hal semacam ini sudah dipraktikkan di Jepang. Pihak yang berwenang di sana berusaha mendayagunakan bangunan-bangunan pemerintah sebagai pengumpul air hujan. Salah satu contohnya adalah Gedung Ryogoukan di Tokyo yang terkenal sebagai arena pertandingan Sumo. Atap gedung yang memiliki luas sekitar 8.400 meter persegi ini didesain sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai penampung air hujan. Air yang berhasil ditampung digunakan untuk keperluan perawatan gedung akan tetapi tidak digunakan sebagai air minum.
Atap yang sudah didesain sebagai bak penampungan tersebut, atau setidaknya memiliki tempat penampungan air, kemudian dilengkapi dengan saluran-saluran yang memungkinkan air tersebut mengalir ke bawah. Pada bagian bawah bangunan dibuat semacam kolam-kolam resapan yang dipinggir-pinggirnya dibiarkan berupa material tanah atau bebatuan untuk memudahkan proses peresapan air. Akan tetapi, sebelum masuk ke kolam resapan ada tabung penampungan sementara yang di dalamnya dipasangi alat yang memungkinkan sebagian air yang mengalir ke sumur resapan mengalami proses filtrasi.
Alat tersebut bisa menggunakan teknologi Pure It atau perangkat desalinasi berbasis reverse osmosis atau penguapan dan kondensasi berulang. Pada teknologi Pure It misalnya, air yang mengalir ke tempat penampungan sementara setidaknya akan diproses melalui empat tahapan, yaitu: tahap 1 adalah saringan serat mikro menghilangkan semua kotoran yang terlihat; tahap 2 adalah filter karbon aktif untuk menghilangkan pestisida, zat-zat dan parasit berbahaya; tahap 3 adalah prosesor pembunuh kuman menghilangkan bakteri dan virus berbahaya dalam air; dan tahap 4 adalah proses penjernihan untuk menghasilkan air yang jernih, tidak berbau, dengan rasa yang alami. Dengan demikian, proses pemurnian air dalam tabung penampungan sementara ini dapat melayani penyediaan air baku yang dialirkan ke tempat-tempat khusus untuk diminum secara langsung.
Selanjutnya, sebagian atap ini dapat dilapisi oleh panel surga untuk menyimpan energi matahari yang diubah menjadi energi listrik. Energi listrik yang didapat dari panel surya dapat digunakan untuk mengoptimaliasi kerja alat pemurni air, antara lain untuk menekan filter air dengan pompa. Dengan energi dari panel surya, air dapat dipompakan secara otomatik dengan menggunakan automatic microcontroler menjadi alat penyiram lahan-lahan hidroponik di atap-atap bangunan, gedung, ataupun halaman. Adapun tanaman-tanamannya ditempatkan sesuai konsep hidroponik, di mana tanaman dapat disimpan di pot-pot yang digantung tanpa memerlukan lahan berupa tanah.


Gambar 2.1  Pengelolaan dan Pemanfaatan Air Hujan untuk Menyiram Tanaman.

Gambar 2.2  Contoh Sumur Resapan Dalam.


 
Gambar 2.3  Pengelolaan dan Pemanfaatan Air Hujan dengan Memanfaatkan Botol Bekas Air Mineral.



BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


3.1.Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Air hujan dapat dimanfaatkan untuk keperluan penunjang rumah tangga seperti menyiram tanaman maupun kebutuhan penunjang kakus.
2.      Air hujan di lingkungan rumah dapat dimanfaatkan dengan cara menampung dalam bak penampungan,membuat sumur resapan dan menggunakan teknologi pemurnian air.

3.2. Saran
Saran dari penulis untuk pemanfaatan air hujan di lingkungan rumah adalah sebagai berikut:
1.      Diadakan gerakan nasional pemanfaatan air hujan terutama didaerah perkotaan.
2.      Pemerintah memfasilitasi teknologi yang ramah lingkungan dan terjangkau oleh masyarakat untuk memanfaatkan air hujan.
3.      Setiap rumah setidaknya ada 1 bak penampungan air hujan atau sumur resapan.
4.      Secara rutin membersihkan sampah yang berada diatap penangkap dan talang saluran air hujan.
5.      Perlu adanya saringan filter yang dapat menyaring kotoran- kotoran sehingga tidak masuk dan mengotori bak penampungan air.





 
DAFTAR PUSTAKA


Anonim.1987.Peran Wanita Dalam Memelihara Air Bersih Dan Lingkungan Rumah Tangga : Jakarta
Anonim.1991.Pengelolaan Penyediaan Air Bagi Petugas Pembinaan Kesehatan Lingkungan Dati II : Jakarta
Anonim. Petunjuk  Praktis Pembangunan Penampung Air Hujan (PAH) Batu Bata
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 2004. Pemanfaatan Air Tanah: Ikhtiar Peningkatan Kualitas Hidup Rakyat : Jakarta.
Lubis, Rachmat Fajar. Krisis Air di Kota: Masalah dan Upaya Pemecahannya
Prabowo, Dibyo. 1982. Sumber Daya Air dalam Kehidupan Manusia. dalam Prisma, No. 11, November 1982, Tahun XI.  Jakarta: LP3ES.
PU Cipta Karya.  2003. Sumur Resapan Air                     
Riyadi Slamet.AL. 1986.Pengantar Kesehatan Lingkungan.Usaha Jawa:Surabaya
Sanropie. Penyediaan Air Bersih. APKTS
Sutrisno T. 1996. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rineka Cipta: Jakarta.
Winarno F G. 1996.  Air Untuk Industri Pangan, PT Gramedia: Jakarta
Waluyo L. 2005. Mikrobiologi Lingkungan. UMM Press: Malang
Soekardi, Susilo dan Tauhid Nur Azhar. 2012. Air dan Samudera: Mengurai Tanda-Tanda Kebesaran Allah di Lautan. Tinta Medina: Solo.

12
 
 

Share this:

CONVERSATION

1 comments:

  1. Mantap...Bagus banget artikelnya sangat bermanfaat

    https://about.me/kasqq
    https://about.me/tikiqq
    https://about.me/bolamas88
    http://www.dailymotion.com/nhara-bilqis
    http://www.dailymotion.com/delvino-kyori
    http://www.dailymotion.com/arva-zahira
    https://www.sbnation.com/users/DK%20Kyori
    http://armorgames.com/user/DKDELV88
    http://www.kongregate.com/accounts/dkdelv77
    https://www.kiwibox.com/dkdelv88/blog/entry/141554273/goldenqq-net-bandar-poker-online-terpercaya-bandar-poker-/?pPage=0

    ReplyDelete